TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Kopi TIMES

Pemimpin yang Adil

29/05/2020 - 10:09 | Views: 20.78k
Penulis adalah Prof Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Periode 2009-2017, anggota Mustasyar PW Nahdlatul Ulama (NU) DIY, Pengurus ICMI Pusat, Dewan Pakar Psycho Education Centre (PEC).

TIMESJAKARTA, YOGYAKARTA“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS, an Nisaa’ : 58)

Keberadaan dan kemajuan suatu organisasi atau institusi sangatlah tergantung pada pemimpinnya. Baik itu berkenaan dengan sifat maupun sikap pemimpin. Adil merupakan salah satu sifat dan sikap pemimpin yang sangat penting, selain jujur, bertanggung jawab, kreatif, visioner, perduli, komunikatif, dan sebagainya. Pemimpin yang adil tidak hanya berurusan secara horizontal, melainkan juga berurusan secara vertikal. Justru pemimpin yang adil ada di mata Allah swt. Dengan begitu betapa berartinya pemimpin yang adil.

Kita bisa amati, mengapa masih banyak praktik korupsi di tanah air. Jika korupsi itu terjadi pada masa Orde Lama atau Orde Baru, maka praktik korupsi yang dilakukan pejabat di semua tempat sangatlah bisa dimaklumi. Walaupun dulu juga sudah ada larangan melakukan pungutan liar (pungli). Namun jika di era Reformasi bahwa praktek korupsi masih ada di mana-mana, bahkan masih merajalela, sangatlah disayangkan. Karena salah satu misi Reformasi yang penting adalah penghapusan KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme). Berdasarkon kondisi yang ada, dapat diduga secara hipotetik bahwa penyebab utama tindakan korupsi itu adalah kepemimpinan yang tidak adil.

Ronald E Riggio Ph.D. (2018) menjelaskan sejumlah alasan yang menyebabkan pemimpin bertindak tidak adil, di antaranya: Pertama, pemimpin kurang empati. Pemimpin yang berada di posisi tinggi cenderung kurang sensitif terhadap persoalan yang dihadapi staf paling bawah. Kedua, pemimpin cenderung bias.  Pemimpin tidak menyadari bahwa mereka berpotensi melakukan bias tertentu yang menjadikan dirinya menyukai orang-orang tertentu daripada yang lainnya. Hal ini sebagai konsekuensi dari adanya praktek “like” and “dislike”.

Ketiga, Pemimpin tidak dikehendaki untuk bersikap adil. Jika organisasi tidak menekankan perlakuan adil, maka pemimpin merasa bebas untuk melakukan apa saja yang mereka inginkan. Keempat, Pemimpin sama sekali kurang panduan. Beberapa pimpinan tidak menyadari bahwa mereka bertindak secara tidak adik dan berbuat apa saja yang disukai. Terakhir, Pekerja itu merasa mendapatkan perlakuan tidak adil, padahal pada kenyataannya tidak. Terlalu serang pekerja meyakini bahwa mereka diperlakukan secara tidak adil, tetapi pada kenyataannya tidak.

Betapa penting pemimpin itu adil, karena pada hakekatnya pemimpin yang adil itu bisa menjamin tegaknya demokrasi. Dalam konteks ini pemimpin seharusnya lebih mengutamakan layanan untuk memenuhi hak yang dilayani (staf atau rakyat). Memuaskan orang lain lebih diutamakan daripada memuaskan dirinya, keluarganya, koleganya, atau golongannya. Berbuat adil tidak lagi menjadi bisnis duniawiyah melainkan juga bisnis ukhrawiyah. Ingat firman Allah swt, “Dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”.(QS Al Hujurat:9).

Allah swt tidak hanya perintahkan untuk menjadi pemimpin yang adil, melainkan Allah memberikan jaminan di hari akhir secara eksplisit. Dari Abu Hurairah RA dari Nabi SAW, Beliau SAW bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.” (HR Bukhari dan Muslim). Pemimpin yang adil di urutan pertama, menunjukkan betapa Allah swt memberikan perhatian yang khusus.

Bagaimana mengimplementasikan kepemimpinan yang adil, sehingga amanah bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Kita sebenarnya sudah memiliki rambu-rambu oleh Allah, sehingga kita bisa terhindar dari tindakan KKN. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu kerana ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjaan.” (QS. An-Nisa’ : 135). Walaupun sudah ada rambu, ternyata yang memiliki pengetahuan agama yang cukup pun masih terpeleset, sehingga tidak bisa menegakkan keadilan. Maka selalu berlindunglah kepada Allah, semoga hidup kita selamat di dunia dan akhirat.

Untuk menjadi pemimpin yang adil dalam suatu organisasi atau institusi, maka ia harus peka terhadap semua orang yang dipimpin, bahkan pihak lain yang terkait. Harus banyak mengamati, mendengar dan bersikap terbuka, jika perlu bersikap proaktif, sehingga dalam memutuskan suatu kebijakan atau keputusan bisa matching dengan apa yang menjadi kebutuhan semua dan dinikmati hasilnya oleh seluruh orang yang dipimpinnya. Tanpa ada salah satu pihak yang diuntungkan ataupun dirugikan. Singkatnya mereka semua harus sama bisa menikmati hasil kerja bersama  tanpa ada diskrimasi dan rasa kecewa di salah satu pihak.

Memang tidak semua pemimpin bisa berlaku adil. Untuk berbuat adil tidaklah mudah. Kita perlu mengetahui sanksi dan akibat pemimpin yang tidak adil. Rasulullah saw bersabda “Awal (dari ambisi terhadap kekuasaan) adalah rasa sakit, lalu kedua diikuti dengan penyesalan, setelah itu ketiga diikuti dengan siksa pada hari kiamat, kecuali bagi yang mampu berbuat adil.”(HR At Thabrani). Demikian pula ada peringatan keras bagi pemimpin yang tidak amanah. Nabi SAW bersabda “Sebaik-baik perkara adalah kepemimpinan bagi yang menunaikannya dengan cara yang benar. Sejelek-jelek perkara adalah kepemimpinan bagi yang tidak menunaikannya dengan baik dan kelak ia akan merugi pada hari kiamat.(HR At Tabrani). Dengan begitu para pemimpin di sektor manapun bertanggungjawab menegakkan keadilan dan melayani dengan baik dan profesional. Jika tidak mampu,  maka akibatnya berat di belakang.

Demikian sekedar catatan pinggir tentang pemimpin yang adil. Secara konsep sudah banyak yang bisa dipedomani untuk menjadi pemimpin yang adil. Namun dalam implementasi tidaklah mudah. Karena banyak faktor yang bisa menggerus sikap adil. Bisa dari pemimpin sendiri yang tidak mampu mengendalikan diri, tidak disiplin, dan tak berintegritas. Juga bisa berasal dari keluarga dan handai taulan. Bisa juga dari pihak lain yang memaksa dan menjerat pemimpin. Apapun alasannya, yang pokok adalah kuncinya di pemimpin sendiri. Bertanya pada hati nurani sendiri. Sudah adilkah saya. Sudah bebaskas saya dari sikap diskriminatif, menganakemaskan seseorang, kelompok atau institusi. Yang jelas adanya keberanian melayani orang atau pihak lain satu strip di atas kita, keluarga kita, kelompok kita, fraksi kita atau partai kita. Dengan begitu insya Allah pemimpin bisa menenuhi sikap adil, di samping melayani. Semoga. (*)

*) Penulis adalah Prof Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Periode 2009-2017, anggota Mustasyar PW Nahdlatul Ulama (NU) DIY, Pengurus ICMI Pusat, Dewan Pakar Psycho Education Centre (PEC).

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Jurnalis : A Riyadi
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok
Sumber : TIMES Indonesia
Copyright © 2020 TIMES Jakarta

    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/indoroot/public_path/v1/m/app/views/news.detail.php on line 232
Top

search Search